Sisi Negatif Dan Positif Bagi Yang Telah Dikaruniai Anak-Anak

Kategori : Umum, Ditulis pada : 21 Juli 2026, 19:49:08

SISI NEGATIF DAN POSITIF BAGI YANG TELAH DIKARUNIAI ANAK-ANAK

SESEORANG MENJADI BAKHIL, BODOH, PENAKUT & SUSAH (RATA-RATA KARENA TERLALU BERAT HATI PADA ANAK-ANAKNYA);

NAMUN DISISI LAIN, ANAK JUGA MERUPAKAN BUAH HATI YANG MENJADI PENYEJUK JIWA, MEMBANTU ORANG TUA (DALAM RANGKA BERBAKTI), DAN KELAK AKAN MENDOAKAN KEDUA ORANG TUANYA

1️⃣. Dari Al-Aswad bin Khalaf Radhiyallahu anhu:

أن النبيَّ - صلَّى الله عليه وسلَّم - أخَذ يومًا حسنًا وحُسينًا، فجعل هذا على هذا الفخذ، وهذا على هذا الفخذ، ثم أقبل على الحسن فقبَّله، ثم أقبل على الحسين فقبَّله، ثم قال: (اللهمَّ إني أحبُّهما فأحِبَّهما)، ثم قال: (إنَّ الولد مَجْبَنةٌ مَبْخَلةٌ مَجْهَلةٌ مَحْزَنةٌ)

Artinya:
"pada suatu hari menggendong (memangku) Hasan dan Husain, lalu beliau meletakkan yang satu di paha ini, dan yang lain di paha ini. Kemudian beliau mendekat kepada Hasan lalu menciumnya, kemudian mendekat kepada Husain lalu menciumnya, lalu bersabda: 'Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya: Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

("Sesungguhnya anak itu membuat orang tua menjadi bakhil, pengecut, bodoh dan menyusahkan (orang tua))."

(shahih, HR. Ibnu Majah (3666), disebutkan juga oleh At-Thabrani dari Haulah binti Hukaim secara marfu'. Dishahihkan oleh Al-Iroqi dalam Takhrij Al-Ihya', dan Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (1/1990), dll).
------
1000111769.png

2️⃣. Dari Ya'la Al-Amiri Radhiyallahu anhu berkata:

جاءَ الحسَنُ والحسينُ يَسعيانِ إلى النَّبيِّ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ فضمَّهما إليه وقال إنَّ الولدَ مَبخلةٌ مَجبنةٌ

Artinya:
"Hasan dan Husain datang berlari kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau memeluk mereka berdua dan bersabda:

'Sesungguhnya anak itu benar-benar membuat orang tua menjadi bakhil (pelit) dan pengecut (penakut)." (HR. Ibnu Majah (3665), dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani).
------

3️⃣. Dalam hadits dari Dari Khaulah binti Hakim (istri Utsman bin Madz'un) berkata:

أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ وَقَدْ حَمَلَ أَحَدَ ابْنَيِ ابْنَتِهِ وَهُوَ يَقُولُ: «إِنَّكُمْ لَتُجَهِّلُونَ وَتُجَبِّنُونَ وَتُبَخِّلُونَ, وَإِنَّكُمْ لَمِنْ رَيْحَانِ الْجَنَّةِ»

Artinya:
"bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar dari rumah sedang menggendong salah seorang cucunya, maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Dan demi Allah, sesungguhnya kalian (wahai cucu) yang membuat bakhil, membuat pengecut dan membuat bodoh (orang tua). Dan kalian laksana bunga raihan karunia dari Allah."

(shahih dari sisi makna, HR. Ahmad (2/409) dan At-Tirmidzi (1910)).
------

4️⃣. Dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu anhu berkata:

الولَدُ ثمرةُ القَلبِ، وإنَّه مَجبَنةٌ، مَبخلةٌ، مَحزَنةٌ.

Artinya:
"Anak adalah buah hati, Sesungguhnya anak itu membuat pengecut, bakhil, dan menyusahkan (orang tua)."

(shahih dari sisi makna. HR. ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya, Al-Bazzar, dll).
------

🟠 Keterangan Ulama':

Disebutkan dalam Mawqi' Al-Fatawa Islamweb:

ومعنى قوله "مجبنة" أي أن الولد سبب لجبن الأب فإنه يتقاعد من الغزوات بسبب حب الأولاد والخوف من الموت عنهم. ومعنى قوله "مبخلة" أي أن الولد سبب للبخل بالمال، ومعنى قوله "مجهلة" لكونه يحمل على ترك الرحلة في طلب العلم والجد في تحصيله لاهتمامه بتحصيل المال له. ومعنى "محزنة" لأنه يحمل أبويه على كثرة الحزن لكونه إن مرض حزنا، وإن طلب شيئا لا قدرة لهما عليه حزنا، ذكر ذلك الإمام المناوي في فيض القدير.

Terjemahannya:
"Makna dari perkataan Nabi: “(pengecut/ penakut)”, berarti bahwa anak itu menjadikan ayahnya seorang penakut, karena sang ayah menarik diri / mundur duluan dari pertempuran jihad karena cinta beratnya kepada anak-anaknya dan takut mati demi anak-anak.

Makna ungkapan dari Nabi: “(pelit / bakhil)” artinya demi anak - menjadikan alasan bagi orang tua - untuk selalu pelit menyedekahkan uangnya (kepada selain keluarganya),

dan maksud perkataannya “bodoh” adalah karena mendorong orang tuanya untuk meninggalkan safar untuk belajar (mencari) ilmu agama dan tidak bersungguh-sungguh memperoleh ilmu karena mencari uang untuk dirinya sendiri (kehawatiran yang lebih terhadap anak).

Yang dimaksud nabi “susah/ sedih” adalah karena anak bisa membuat orang tuanya sangat susah, karena jika si anak sakit maka membuat orang tua susah, dan jika anak meminta sesuatu / ingin sesuatu yang tidak dapat diwujudkan oleh orang tua maka orang tua tersasa susah/ sedih. Hal ini seperti disebutkan oleh Imam Al-Manawi dalam Faidhul Qadir."
-------

Referensi:
- As-Sunan, Abu Isa At-Tirmidzi dan Ibnu Majah Al-Qazwaini
- Al-Musnad, Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal
- Al-Musannaf, Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah

Ditulis oleh Pembimbing Amar Tour:
Ustadz Dr. Lilik Ibadurrahman, S.Ud, M.Pd
------

Kami mengundang Bapak/Ibu untuk bergabung di Channel:

https://whatsapp.com/channel/0029Vakz7ycDp2Q0Z8kALN32

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id